MENDOBRAK PARADIGMA PERMASALAHAN PSIKIS DI TEMPAT KERJA

Aria Cindyara

Jakarta, 3/2 – Pada akhir bulan Januari lalu Pangeran William dari Kerajaan Inggris mengatakan bahwa perusahaan tempat seseorang bekerja seharusnya menyediakan lebih banyak dukungan bagi mereka yang mengalami ketidakseimbangan psikis dalam bekerja.
Menurut William, petinggi-petinggi yang ada di sebuah kantor seharusnya juga dapat memberikan contoh mengenai keterbukaan masalah psikis, karena perubahan budaya di lingkungan kerja akan lebih efektif ketika datang dari level atas. “Kebanyakan orang malu untuk terbuka akan apa yang mereka rasakan,” kata William, dilansir dari BBC.
Tak dapat dipungkiri, tempat kerja dapat memberikan banyak tekanan terhadap para karyawan. Namun, data yang dikeluarkan Organisasi Buruh Internasional (ILO) mengatakan bahwa mayoritas pekerja yang mengalami kelelahan atau gangguan psikis cenderung untuk tidak terbuka mengenai permasalahannya. Mereka tidak akan mengambil cuti untuk merawat kesehatan mentalnya, meskipun hal itu sangat dibutuhkan.

Tak lazim

Kesehatan mental bukan hal yang lazim didiskusikan di lingkungan kerja, sebab stigma yang melekat dengan permasalahan psikis masih sangat kuat.
Pada tahun 1974, periset psikologi Herbert Freudenberger melakukan riset terhadap kondisi yang disebut sebagai ‘Occupational Burnout’ atau kelelahan psikis di lingkungan kerja. Menurut Herbert, kondisi tersebut seringkali dikarenakan beban kerja yang berlebih dan menyebabkan pekerja mengalami gejala-gejala yang juga dialami oleh penderita depresi.
Akibatnya, produktifitas dan performa pekerja dapat menurun drastis. Kelelahan mental ini juga dapat berkembang menjadi gangguan atau penyimpangan mental seperti depresi kronis.
Menurut pemerhati psikologi Djoe G Witjaksono, kelelahan psikis di lingkungan kerja, meski dalam taraf yang bervariasi, merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.
“Yang perlu diperhatikan bukan bagaimana menghilangkan segala tekanan atau ‘stressor’ dalam dunia pekerjaan, namun bagaimana mengatasi dan mengelolanya,” katanya pada Antara di Jakarta, Minggu.
Pada umumnya, Djoe mengatakan bahwa stress yang dihadapi seseorang dalam lingkup pekerjaan tidak semata-mata disebabkan oleh beban kerja saja, namun juga oleh faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan tekanan, seperti kondisi pribadi dan keadaan sosial.
Individu yang berada di dalam kondisi tertentu, lanjut Djoe, dapat menjadi lebih sensitif terhadap tekanan-tekanan sektoral di dunia kerja, apabila tidak dikelola dengan baik.
Jika tekanan tersebut dianggap sebagai masalah minor yang tidak perlu penanganan dan tidak ada langkah solutif yang diambil dalam tataran perusahaan, maka permasalahan itu dapat menjadi besar.

Peran perusahaan

Spesialis Disabilitas Senior ILO Stefan Tromel mengatakan, dalam artikel yang dirilis laman resmi ILO, bahwa kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental, terutama di level struktural perusahaan, harus terus diperbaiki.
Ia meyakini bahwa di level manajer, misalnya, harus ada pelatihan khusus agar mereka dapat memperhatikan sinyal-sinyal akan terjadinya kelelahan psikis pada pekerja.
“Dengan demikian, mereka dapat mendeteksi tanda-tanda adanya ‘burnout’ sejak dini, sehingga mereka dapat melakukan dialog dengan para pekerja tanpa harus menunggu mereka berbicara secara terbuka mengenai permasalahannya,” kata Stefan.
Penyataan tersebut juga diamini oleh Djoe. “Untuk merawat kondisi kesehatan mental bagi karyawan di lingkungan kerja, maka perusahaan harus memperhatikan dasar-dasar pengaplikasian dalam standarisasi K3,” katanya.
Ia pun menjelaskan bahwa ada beberapa langkah yang dapat diambil oleh pihak perusahaan, yang pertama adalah peningkatan kompetensi bagian personalia atau SDM.
“Perusahaan seyogyanya memiliki psikolog yang bekerja bersama bagian personalia untuk mengatasi kelelahan kerja secara psikis yang dialami karyawan. Namun apabila itu belum dapat dilakukan, maka perlu dilakukan pengembangan kompetensi bagi personil SDM, terutama yang memiliki latar belakang psikologi, untuk dapat mengikuti pelatihan konselor,” jelasnya.
Selain itu, investasi pada program prevensi seperti ‘outbond’ dan pelatihan lain juga diyakini dapat meningkatkan toleransi karyawan terhadap beban kerja.
Skema terakhir yang dapat diaplikasikan, menurut Djoe, adalah penyediaan layanan psikologi klinis independen. Tak hanya sebagai pendamping untuk para pekerja yang mengalami kelelahan psikis, namun psikolog klinis juga dapat membantu pihak perusahaan untuk menyusun program prevensi berdasarkan analisa dan pengamatan terhadap budaya kerja perusahaan.
“Nantinya juga dapat dilakukan evaluasi terukur terhadap langkah-langkah yang diambil untuk mengelola beban kerja dan tingkat psikis karyawan di lingkungan kerja,” paparnya.

Perjalanan panjang

Dalam skala nasional, isu tentang kesehatan mental memang belum dianggap sebagai permasalahan yang mendesak.
Meski laporan yang diumumkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa ada lebih dari sembilan juta kasus kejiwaan dalam bentuk depresi di Indonesia, pendiri platform konseling psikologis independen Save Yourselves Indri Mahadiraka mengatakan bahwa angka tersebut hanya 10 persen dari total masalah kesehatan di Indonesia.
Menurut Indri, besar kemungkinannya bagi pemerintah Indonesia untuk tidak memprioritaskan penanggulangan isu kesehatan jiwa.
Di sisi lain, ia mengatakan bahwa mengubah pola pikir masyarakat mengenai kesehatan mental juga masih menjadi tantangan besar.
“Masih banyak yang belum menyadari bahwa kesehatan mental harus diprioritaskan. Tidak perlu merasa malu untuk mengakui bahwa kita membutuhkan bantuan dan pendampingan untuk menjaganya,” kata Indri.
Kurangnya kesadaran akan kesehatan mental dalam skala nasional, baik dari pemerintah maupun masyarakat, tampak menurun terhadap budaya yang ada di berbagai institusi, termasuk di perkantoran. Akibatnya, permasalahan seperti ‘burnout’ kurang mendapatkan perhatian dan penanganan yang sesuai.
Kendati demikian, optimisme terhadap perubahan paradigma yang diterapkan secara kolektif di tempat kerja dapat menciptakan kondisi lingkungan kerja yang nyaman, sehingga beban kerja dapat direspon dengan lebih baik.
Keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental dapat menjaga produktifitas pekerja. Perusahaan diuntungkan dengan adanya performa maksimal dari jajaran staff dan pekerja juga dapat memanfaatkan tempat kerja yang nyaman sebagai media untuk mengembangkan kompetensi serta menjalankan proses aktualisasi diri.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s