Surat untuk Jakarta

Izinkan aku memulai dengan berkata, bahwa aku tak membencimu, Jakarta.
Biarkan aku runtuhkan egoku sejenak dan tumpahkan semua rasa padamu, sang Ibukota.

Jujur, hingga saat ini, aku tak dapat pahami sepenuhnya, mengapa kami sebut kau kejam dan tanpa belas kasihan.
Kami jadikan kau kambing hitam dari rumitnya kehidupan.
Kau hanya berdiri tenang, sembari melihat kami berebut, saling dorong, untuk mendapatkan tempat yang layak di dalam peliknya tatananmu.

Kadang isi perutmu lebih riuh dari isi kepalaku, dan di saat itu, aku memilih untuk tak menatapmu.
Tak jarang kudapati diriku mengutuk dan mencacimu atas semua ketidakpuasan.
Atas semua permasalahan dan kepenatan yang muncul dalam rotasi kehidupan.
Tak jarang aku berjanji, suatu hari nanti, akan kutinggalkan Jakarta selamanya, dan tak akan pernah lagi aku injakkan kedua kaki ini di tanah tandus yang kini berupa pijakan aspal dan beton.

Saat tiba waktunya sang senja menyapa, garis cakrawalamu mulai biaskan warna jingga keemasan. Seketika aku terlupa akan segala kebencian yang kusimpan terhadapmu.

Semakin larut, semakin menipis kabut itu.
Temaram cahaya matahari mulai terbenam perlahan tergantikan oleh titik-titik kecil penerangan buatan, dan ketika jam dinding menunjukkan pukul 12 malam, kau terasa begitu tenang.

unfinished
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s